Membuat training PPT bukan sekadar memindahkan materi pelatihan ke dalam beberapa slide PowerPoint.
Presentasi training yang baik harus membantu peserta memahami materi, mengikuti alur pembelajaran, mengingat poin penting, dan mengetahui apa yang perlu mereka lakukan setelah training selesai.
Masalahnya, banyak materi training justru terlalu penuh dengan tulisan. Satu slide berisi beberapa paragraf, ukuran font terlalu kecil, dan trainer akhirnya hanya membaca isi PowerPoint di depan peserta.
Akibatnya, PowerPoint yang seharusnya membantu proses training malah menjadi beban.
Lalu, bagaimana cara membuat training PPT yang efektif?
Berikut langkah-langkah yang bisa digunakan saat membuat materi training untuk kebutuhan perusahaan.
Apa Itu Training PPT?
Training PPT adalah presentasi PowerPoint yang digunakan untuk mendukung proses pelatihan atau pembelajaran.
Dalam lingkungan perusahaan, training PPT dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti:
- employee onboarding;
- product knowledge;
- sales training;
- leadership training;
- SOP dan operational training;
- compliance training;
- customer service training;
- digital skills training;
- safety training;
- hingga internal knowledge sharing.
Berbeda dengan presentasi bisnis biasa, tujuan utama training PPT bukan hanya menyampaikan informasi.
Presentasi harus membantu peserta belajar.
Karena itu, struktur slide perlu mengikuti perjalanan peserta dari memahami konteks, mempelajari konsep, melihat contoh, hingga mencoba menerapkannya.
1. Tentukan Tujuan Training Terlebih Dahulu
Kesalahan yang sering terjadi ketika membuat training PPT adalah langsung membuka PowerPoint dan mulai membuat slide.
Padahal, langkah pertama seharusnya menentukan hasil yang ingin dicapai.
Tanyakan:
“Setelah mengikuti training ini, peserta harus bisa melakukan apa?”
Contohnya, dibanding menggunakan tujuan:
Peserta memahami customer service.
Buat tujuan yang lebih konkret:
Setelah training, peserta mampu menangani komplain pelanggan menggunakan tahapan komunikasi yang sudah ditentukan perusahaan.
Tujuan seperti ini akan membuat pemilihan materi menjadi jauh lebih mudah.
Setiap slide kemudian dapat diuji dengan pertanyaan sederhana:
Apakah informasi ini membantu peserta mencapai tujuan training?
Jika tidak, materi tersebut kemungkinan tidak perlu dimasukkan.
2. Kenali Siapa Peserta Training
Materi untuk karyawan baru tentu berbeda dengan materi untuk supervisor atau manager.
Sebelum menyusun training PPT, identifikasi terlebih dahulu:
- siapa peserta training;
- pengalaman mereka;
- pengetahuan yang sudah mereka miliki;
- masalah yang sering mereka hadapi;
- dan kemampuan apa yang ingin ditingkatkan.
Semakin spesifik peserta yang dituju, semakin mudah membuat contoh dan penjelasan yang relevan.
Misalnya, training mengenai cybersecurity untuk seluruh karyawan sebaiknya tidak dipenuhi istilah teknis yang hanya dipahami oleh tim IT.
Sebaliknya, gunakan situasi yang dekat dengan pekerjaan sehari-hari, seperti menerima email mencurigakan, membuat password, atau membagikan dokumen perusahaan.
3. Buat Struktur Training PPT Sebelum Mendesain Slide
Jangan langsung memikirkan warna, icon, atau template.
Susun dahulu alur materinya.
Struktur training PPT sederhana dapat dibuat seperti berikut:
Pembukaan
Jelaskan mengapa peserta perlu mempelajari topik tersebut.
Learning Objectives
Berikan gambaran mengenai kemampuan atau pengetahuan yang akan diperoleh peserta.
Masalah atau Konteks
Tunjukkan situasi yang biasa dihadapi peserta.
Konsep Utama
Jelaskan framework, metode, prosedur, atau pengetahuan utama.
Contoh
Perlihatkan bagaimana konsep tersebut digunakan dalam situasi nyata.
Latihan
Berikan case study, pertanyaan, diskusi, atau praktik.
Kesimpulan
Rangkum beberapa hal terpenting dari training.
Action Plan
Jelaskan apa yang perlu dilakukan peserta setelah training selesai.
Dengan struktur tersebut, training PPT terasa seperti perjalanan belajar, bukan sekumpulan slide yang berdiri sendiri.
4. Gunakan Satu Ide Utama dalam Satu Slide
Salah satu cara termudah membuat PowerPoint training lebih nyaman diikuti adalah membatasi setiap slide pada satu gagasan utama.
Misalnya, daripada membuat satu slide berjudul:
“Cara Menangani Keluhan Pelanggan”
yang langsung berisi enam tahapan panjang, pecah menjadi beberapa slide:
- Mengapa pelanggan melakukan komplain?
- Langkah 1: Dengarkan pelanggan.
- Langkah 2: Klarifikasi masalah.
- Langkah 3: Tawarkan solusi.
- Contoh percakapan.
- Studi kasus.
Peserta akan lebih mudah mengikuti penjelasan karena perhatian mereka tidak terbagi ke terlalu banyak informasi dalam satu waktu.
5. Jangan Memindahkan Modul ke PowerPoint
Training PPT bukan dokumen Word yang ditampilkan di layar.
Jika semua penjelasan dimasukkan ke dalam slide, peserta akan sibuk membaca ketika trainer sedang berbicara.
Gunakan slide untuk menampilkan hal-hal yang membantu penjelasan, seperti:
- headline;
- keyword;
- diagram;
- ilustrasi;
- proses;
- tabel sederhana;
- contoh;
- data penting;
- atau pertanyaan diskusi.
Penjelasan detail dapat disampaikan oleh trainer atau ditempatkan dalam handbook dan training notes.
Prinsip sederhananya:
Slide membantu trainer menjelaskan. Slide tidak harus menggantikan trainer.
6. Buat Judul Slide yang Menyampaikan Pesan
Bandingkan dua judul berikut.
Judul 1:
Customer Complaint
Judul 2:
Pelanggan yang marah biasanya ingin didengar sebelum diberikan solusi.
Judul kedua sudah memberikan informasi kepada peserta bahkan sebelum trainer menjelaskan detailnya.
Karena itu, jangan selalu menggunakan judul berupa nama topik.
Gunakan judul yang menyampaikan pesan utama slide.
Contoh lainnya:
Daripada:
Communication
Gunakan:
Komunikasi yang jelas mengurangi kesalahan antar-tim.
Daripada:
Password Security
Gunakan:
Password yang sama di banyak akun meningkatkan risiko keamanan.
Slide kemudian digunakan untuk memperkuat pesan tersebut.
7. Gunakan Visual yang Membantu Pemahaman
Visual bukan sekadar dekorasi.
Gunakan gambar, diagram, icon, atau grafik ketika visual tersebut membuat konsep lebih cepat dipahami.
Misalnya:
Untuk menjelaskan workflow, gunakan flowchart.
Untuk membandingkan dua kondisi, gunakan comparison layout.
Untuk menjelaskan tahapan, gunakan process diagram.
Untuk menampilkan angka, gunakan chart atau visualisasi data sederhana.
Untuk menjelaskan situasi pekerjaan, gunakan ilustrasi atau foto yang relevan.
Hindari menambahkan gambar hanya karena area slide terlihat kosong.
Setiap elemen sebaiknya memiliki fungsi.
8. Gunakan Desain yang Konsisten
Training PPT perusahaan tidak harus memiliki desain yang rumit.
Justru desain yang sederhana dan konsisten biasanya lebih mudah diikuti.
Tentukan sejak awal:
- jenis font;
- ukuran heading;
- ukuran body text;
- warna utama;
- warna aksen;
- gaya icon;
- layout;
- dan posisi elemen.
Sebagai contoh, Anda dapat menggunakan:
Heading: 28–36 pt
Body: 18–24 pt
Warna utama: warna brand perusahaan
Background: putih atau warna netral
Accent color: satu atau dua warna pendukung
Yang terpenting adalah teks mudah dibaca dari posisi peserta.
9. Masukkan Contoh dan Studi Kasus
Training menjadi lebih relevan ketika peserta melihat hubungan antara materi dengan pekerjaan mereka.
Karena itu, jangan hanya memberikan teori.
Gunakan contoh seperti:
Situasi:
Seorang pelanggan mengirimkan komplain karena pesanan terlambat.
Pertanyaan:
Apa respons pertama yang sebaiknya diberikan?
Kemudian trainer dapat meminta peserta memilih jawaban, berdiskusi, atau melakukan role-play.
Dengan cara ini, slide tidak hanya menyampaikan informasi tetapi juga menciptakan interaksi.
10. Tambahkan Aktivitas dalam Training PPT
Jika training berlangsung cukup lama, hindari membuat peserta hanya melihat slide selama berjam-jam.
Sisipkan aktivitas seperti:
- quiz;
- polling;
- diskusi kelompok;
- case study;
- brainstorming;
- role-play;
- praktik;
- reflection question;
- atau problem-solving exercise.
Contohnya, setelah menjelaskan sebuah konsep, tampilkan slide:
Coba Analisis Kasus Ini
Seorang pelanggan menghubungi customer service untuk ketiga kalinya karena masalah yang sama belum selesai. Apa tiga langkah pertama yang akan Anda lakukan?
Berikan beberapa menit kepada peserta untuk mendiskusikannya.
Setelah itu, baru tampilkan slide berikutnya yang berisi pembahasan.
11. Akhiri Training dengan Ringkasan
Jangan mengakhiri presentasi hanya dengan slide:
“Thank You.”
Sebelum slide penutup, buat satu bagian yang membantu peserta mengingat materi.
Misalnya:
3 Hal yang Perlu Diingat
- Dengarkan masalah sebelum menawarkan solusi.
- Klarifikasi kebutuhan pelanggan.
- Pastikan ada tindakan lanjutan yang jelas.
Jika memungkinkan, lanjutkan dengan:
Setelah Training Ini
Mulai minggu ini:
Gunakan tiga tahapan tersebut ketika menangani setiap customer complaint.
Dengan demikian, peserta tidak hanya mengetahui apa yang dipelajari tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan setelah training.
Contoh Struktur Training PPT
Jika Anda masih bingung memulai, berikut contoh susunan slide yang dapat digunakan:
- Cover training
- Mengapa topik ini penting?
- Learning objectives
- Masalah yang sering terjadi
- Konsep utama
- Framework atau metode
- Tahap pertama
- Tahap kedua
- Tahap ketiga
- Contoh penerapan
- Case study
- Diskusi
- Pembahasan
- Key takeaways
- Action plan
- Q&A
- Closing
Jumlah slide tentunya dapat disesuaikan dengan durasi dan kompleksitas training.
Checklist Sebelum Training PPT Digunakan
Sebelum presentasi diberikan kepada peserta, periksa kembali:
- Apakah tujuan training sudah jelas?
- Apakah peserta memahami mengapa materi ini penting?
- Apakah satu slide memiliki satu pesan utama?
- Apakah ada slide yang terlalu penuh tulisan?
- Apakah ukuran tulisan cukup besar?
- Apakah desain setiap slide konsisten?
- Apakah contoh sesuai dengan pekerjaan peserta?
- Apakah terdapat aktivitas atau latihan?
- Apakah training memiliki kesimpulan?
- Apakah peserta mengetahui tindakan berikutnya?
Jika sebagian besar jawabannya “ya”, training PPT Anda sudah berada di jalur yang tepat.
Kesimpulan
Training PPT yang efektif bukan ditentukan oleh banyaknya animasi, icon, atau desain yang terlihat canggih.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap slide membantu peserta mengikuti proses belajar.
Mulailah dari tujuan training, pahami peserta, susun alur pembelajaran, gunakan satu ide utama dalam setiap slide, berikan contoh yang relevan, lalu akhiri dengan tindakan yang jelas.
Dengan pendekatan tersebut, PowerPoint tidak hanya menjadi bahan presentasi.
Ia menjadi alat yang membantu trainer menyampaikan materi dan membantu peserta menerapkannya dalam pekerjaan.
Butuh training Microsoft Office untuk tim Anda?
NEMA Academy merancang in-house training dan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi Anda. Konsultasikan kebutuhan tim Anda langsung dengan kami.
