Two people pointing at financial details on a document, highlighting invoice analysis.

e-Faktur Pajak Keluaran Sebelum dan Sesudah Coretax: Apa yang Berubah?

e-Faktur Pajak Keluaran Sebelum dan Sesudah Coretax: Apa yang Berubah?

Bagi perusahaan yang melakukan transaksi penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP), e-Faktur Pajak Keluaran merupakan bagian penting dalam administrasi PPN.

Dengan hadirnya Coretax DJP, perusahaan menghadapi perubahan dalam cara administrasi perpajakan dilakukan.

Perubahan ini kemudian menimbulkan pertanyaan:

Apa sebenarnya perbedaan e-Faktur Pajak Keluaran sebelum dan sesudah Coretax?

Apakah konsep Faktur Pajak berubah?

Apakah proses administrasinya berubah?

Apakah perusahaan perlu mengubah SOP?

Dan apakah Tax Staff saja yang perlu memahami perubahan tersebut?

Jawabannya tidak cukup hanya dengan mengatakan:

“Aplikasinya berbeda.”

Perubahan yang perlu diperhatikan lebih luas karena menyangkut sistem, workflow, data, SDM, dan kontrol internal.

Artikel ini membandingkan e-Faktur Pajak Keluaran sebelum dan sesudah era Coretax agar perusahaan dapat memahami perubahan tersebut secara lebih sederhana.

Catatan: Detail menu, tampilan, dan prosedur teknis Coretax dapat diperbarui oleh DJP. Artikel ini berfokus pada perbandingan konsep dan workflow, bukan pengganti petunjuk teknis resmi DJP.


1. Perbandingan Singkat e-Faktur Sebelum dan Sesudah Coretax

Secara umum, perbedaannya dapat dilihat dari beberapa aspek berikut:

AspekSebelum CoretaxEra Coretax
SistemMenggunakan sistem/aplikasi e-FakturTerintegrasi dalam ekosistem Coretax
FokusPembuatan dan administrasi fakturIntegrasi proses administrasi perpajakan
DataBanyak bergantung pada input dan pertukaran data antarprosesData menjadi bagian dari sistem terintegrasi
WorkflowCenderung berorientasi aplikasiLebih berorientasi proses bisnis
RekonsiliasiDilakukan antara beberapa sumber dataTetap diperlukan untuk memastikan konsistensi
SDMFokus pada kemampuan menggunakan aplikasiPerlu memahami sistem, proses, dan data
KontrolBanyak dilakukan melalui SOP dan rekonsiliasiMembutuhkan kontrol proses dan data yang lebih terstruktur

Perlu dipahami bahwa Coretax tidak menghilangkan kebutuhan atas kontrol internal.

Justru ketika sistem semakin terintegrasi, kualitas data dan workflow menjadi semakin penting.


2. Perbandingan dari Sisi Sistem

Sebelum Coretax

Perusahaan terbiasa menggunakan aplikasi e-Faktur untuk menjalankan administrasi faktur pajak.

Workflow secara sederhana:

Transaksi

↓

Invoice

↓

e-Faktur

↓

Administrasi PPN

Perusahaan kemudian perlu memastikan data dari proses tersebut konsisten dengan sistem internal.


Era Coretax

Coretax membawa pendekatan yang lebih terintegrasi terhadap administrasi perpajakan.

DJP menjelaskan bahwa Coretax dirancang sebagai sistem administrasi perpajakan terintegrasi yang mencakup proses seperti registrasi, penyampaian SPT, pembayaran, pemeriksaan, dan penagihan.

Karena itu, perusahaan perlu melihat faktur pajak sebagai bagian dari proses perpajakan yang lebih luas.

Bukan hanya:

Create Invoice

tetapi:

Transaction → Tax Administration → Reporting


3. Perbandingan Workflow e-Faktur Pajak Keluaran

Sebelum Coretax

Workflow perusahaan dapat digambarkan secara sederhana:

Sales

↓

Invoice

↓

Tax

↓

e-Faktur

↓

Accounting

↓

Reconciliation


Era Coretax

Pendekatan yang lebih tepat adalah:

Transaction

↓

Invoice

↓

Tax Assessment

↓

Coretax

↓

Tax Administration

↓

Accounting

↓

Reconciliation

↓

Reporting

Perubahan terpenting bukan hanya pada tempat user melakukan input.

Perubahan pentingnya adalah perusahaan perlu memahami hubungan antarproses.


4. Perbandingan dari Sisi Data

Ini merupakan salah satu perubahan yang sangat penting.

Sebelum Coretax

Data faktur dapat berasal dari beberapa sumber:

  • ERP;
  • invoice;
  • database customer;
  • aplikasi e-Faktur;
  • spreadsheet;
  • dokumen transaksi.

Akibatnya, perusahaan perlu melakukan rekonsiliasi antar-sistem.


Era Coretax

Integrasi sistem membuat kualitas data menjadi semakin penting.

Jika data awal salah, kesalahan dapat berdampak ke proses berikutnya.

Contohnya:

Master Customer Salah

↓

Data Faktur Salah

↓

Administrasi PPN Bermasalah

Karena itu, perusahaan perlu memberikan perhatian lebih pada:

Master Data Management


5. Perbandingan Data Customer

Sebelum Coretax

User dapat terbiasa mengambil data customer dari database internal atau data yang pernah digunakan sebelumnya.

Risikonya:

Data lama digunakan kembali tanpa validasi.


Era Coretax

Perusahaan perlu semakin disiplin memastikan data lawan transaksi sesuai dengan informasi yang diperlukan dalam administrasi perpajakan.

Maka proses yang baik adalah:

Customer Master

↓

Validation

↓

Transaction

↓

e-Faktur

Bukan:

Old Data

↓

Copy

↓

e-Faktur


6. Perbandingan dari Sisi Pembuatan Faktur

Sebelum Coretax

Fokus user umumnya:

Bagaimana membuat e-Faktur?

Artinya kemampuan teknis aplikasi menjadi perhatian utama.


Era Coretax

Pertanyaannya berkembang menjadi:

Bagaimana memastikan transaksi diproses dengan data dan perlakuan pajak yang tepat dalam Coretax?

Jadi kompetensinya menjadi:

Tax Knowledge

  •  

System Knowledge

  •  

Data Knowledge


7. Perbandingan dari Sisi SDM

Ini adalah salah satu perbedaan yang sering diabaikan.

Sebelum Coretax

User cukup familiar dengan:

  • aplikasi e-Faktur;
  • proses input;
  • penerbitan faktur;
  • pembetulan;
  • administrasi terkait.

Era Coretax

User perlu memahami lebih luas:

  • workflow Coretax;
  • hubungan antarproses;
  • data;
  • role dan kewenangan;
  • administrasi PPN;
  • rekonsiliasi;
  • troubleshooting.

Dengan demikian:

Kompetensi user tidak lagi cukup hanya “bisa menggunakan aplikasi”.


8. Tax Staff: Sebelum vs Sesudah Coretax

SebelumEra Coretax
Fokus e-FakturFokus proses perpajakan terintegrasi
Input dataValidasi dan pengelolaan data
Membuat fakturMengelola workflow
Troubleshooting aplikasiTroubleshooting proses dan data
Administrasi fakturAdministrasi + monitoring + reconciliation

Tax Staff semakin dituntut memiliki pemahaman lintas proses.


9. Finance: Sebelum vs Sesudah Coretax

Finance juga perlu memperhatikan perubahan.

Sebelum

Fokus utama:

Invoice → Payment/Collection

Era Coretax

Finance perlu memahami hubungan:

Invoice

↓

Tax

↓

e-Faktur

↓

Accounting

Finance tidak harus menjadi Tax Specialist.

Namun Finance perlu memahami titik interaksi dengan Tax.


10. Accounting: Sebelum vs Sesudah Coretax

Accounting juga memiliki peran penting.

Sebelum

Accounting melakukan pencatatan berdasarkan transaksi dan dokumen pendukung.

Era Coretax

Accounting perlu semakin memperhatikan konsistensi antara:

Sales

Invoice

e-Faktur

GL

SPT

Dengan demikian, rekonsiliasi menjadi semakin penting.


11. Perbandingan Internal Control

Sebelum Coretax

Kontrol dapat berfokus pada:

  • siapa yang membuat faktur;
  • siapa yang memeriksa;
  • dokumentasi;
  • rekonsiliasi.

Era Coretax

Kontrol perlu diperluas menjadi:

Access Control

  •  

Data Control

  •  

Process Control

  •  

Review

  •  

Reconciliation

Misalnya:

Access Control

Siapa yang memiliki akses?

Data Control

Apakah master data benar?

Process Control

Apakah workflow sudah sesuai?

Review

Siapa yang melakukan checker?

Reconciliation

Apakah data konsisten?


12. Perbandingan Risiko Kesalahan

Sebelum dan sesudah Coretax, risiko tetap ada.

Yang berubah adalah cara perusahaan perlu mengendalikan risiko tersebut.

RisikoSebelum CoretaxEra Coretax
Salah customerAdaTetap ada
Salah nominalAdaTetap ada
Salah transaksiAdaTetap ada
Salah periodeAdaTetap ada
Data tidak konsistenAdaTetap perlu dikontrol
User errorAdaTetap ada
Ketergantungan PICAdaTetap perlu diantisipasi

Artinya:

Sistem baru tidak otomatis menghilangkan human error.

Karena itu, perusahaan tetap membutuhkan SOP, training, review, dan monitoring.


13. Perbandingan Rekonsiliasi

Sebelum Coretax

Rekonsiliasi dapat dilakukan antara:

ERP

vs

e-Faktur

vs

Accounting


Era Coretax

Rekonsiliasi tetap penting.

Perusahaan perlu memastikan:

Transaction

=

Invoice

=

Tax Data

=

Accounting

Jika terdapat perbedaan, perusahaan perlu mencari penyebabnya.

Jadi:

Integrasi sistem tidak berarti rekonsiliasi menjadi tidak diperlukan.


14. Perbandingan SOP Perusahaan

Sebelum Coretax

SOP mungkin berfokus pada:

Cara membuat e-Faktur

Cara melakukan approval

Cara melakukan pembetulan


Era Coretax

SOP sebaiknya diperluas menjadi:

Transaction

↓

Invoice

↓

Tax Assessment

↓

Coretax Processing

↓

Review

↓

Accounting

↓

Reconciliation

↓

Reporting

Dengan begitu, SOP tidak hanya menjelaskan:

“Klik menu apa?”

tetapi juga:

“Siapa melakukan apa, kapan, dengan data apa, dan siapa yang memeriksa?”


15. Perbandingan Troubleshooting

Sebelum Coretax

Ketika terjadi masalah, pertanyaan yang sering muncul:

“Kenapa e-Faktur tidak bisa diproses?”


Era Coretax

Troubleshooting perlu lebih luas:

“Apakah masalahnya ada di sistem, data, akses, transaksi, atau proses?”

Gunakan pendekatan:

1. System

Apakah ada kendala sistem?

2. Access

Apakah user memiliki kewenangan?

3. Data

Apakah data benar?

4. Transaction

Apakah transaksi sesuai?

5. Process

Apakah workflow sudah benar?

Pendekatan ini membantu user tidak langsung menganggap semua masalah berasal dari sistem.


16. Mana yang Lebih Sulit: Sebelum atau Sesudah Coretax?

Jawabannya:

Tidak sesederhana lebih sulit atau lebih mudah.

Perubahannya adalah jenis kompetensi yang dibutuhkan.

Sebelum

Lebih banyak fokus pada:

Application Skill

Era Coretax

Lebih membutuhkan kombinasi:

Tax Skill

  •  

System Skill

  •  

Data Skill

  •  

Process Skill

Karena itu, perusahaan perlu mempersiapkan SDM secara lebih menyeluruh.


17. Apa yang Tidak Berubah?

Meskipun sistem dan workflow mengalami perubahan, beberapa prinsip dasar tetap penting.

1. Data Harus Benar

Kesalahan data tetap dapat menimbulkan masalah.

2. Transaksi Harus Dipahami

User harus memahami transaksi sebelum melakukan administrasi pajak.

3. Dokumentasi Tetap Penting

Dokumen transaksi tetap perlu dikelola.

4. Rekonsiliasi Tetap Diperlukan

Data harus dapat dibandingkan dengan sumber lainnya.

5. Internal Control Tetap Dibutuhkan

Sistem tidak menggantikan fungsi kontrol perusahaan.


18. Apa yang Harus Dipersiapkan Perusahaan?

Perusahaan dapat melakukan persiapan melalui lima area.

1. People

Pastikan user mendapatkan training.

2. Process

Review dan update SOP.

3. Data

Bersihkan dan validasi master data.

4. System

Pastikan ERP dan proses internal mendukung workflow.

5. Control

Bangun maker-checker, monitoring, dan reconciliation.

Gunakan framework:

People + Process + Data + System + Control


19. Checklist Perbandingan Kesiapan Perusahaan

Gunakan checklist berikut:

AreaPertanyaan
PeopleApakah user sudah memahami Coretax?
TaxApakah tim memahami administrasi Pajak Keluaran?
DataApakah master customer sudah divalidasi?
ProcessApakah workflow sudah diperbarui?
SOPApakah SOP e-Faktur sudah disesuaikan?
ERPApakah data invoice konsisten?
ControlApakah ada maker-checker?
ReconciliationApakah ada rekonsiliasi berkala?
BackupApakah tersedia backup PIC?
TrainingApakah sudah ada simulasi praktik?

Semakin banyak jawaban “belum”, semakin besar area yang perlu dipersiapkan.


20. Perbandingan Fokus Training

Training e-Faktur sebelum Coretax mungkin lebih banyak berfokus pada:

“Bagaimana menggunakan aplikasi?”

Sedangkan training di era Coretax sebaiknya mencakup:

“Bagaimana mengelola proses administrasi pajak menggunakan sistem?”

Materinya dapat mencakup:

  • pengenalan Coretax;
  • Pajak Keluaran;
  • e-Faktur;
  • workflow;
  • data;
  • validasi;
  • rekonsiliasi;
  • troubleshooting;
  • internal control.

Pendekatan ini lebih relevan untuk perusahaan karena peserta memahami mengapa suatu proses dilakukan, bukan hanya bagaimana mengklik suatu menu.


NEMA Academy: Mempersiapkan SDM Menghadapi Perubahan Coretax

Perubahan dari sistem administrasi sebelumnya menuju Coretax merupakan perubahan yang tidak hanya menyangkut teknologi.

Perusahaan juga perlu menyiapkan:

SDM

SOP

Data

Workflow

Internal Control

NEMA Academy dapat membantu perusahaan melalui Training Coretax yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi.

Training dapat ditujukan untuk:

Tax

Finance

Accounting

Admin

Supervisor

Manager

Khusus untuk e-Faktur Pajak Keluaran, peserta dapat mempelajari proses secara lebih praktis melalui:

Concept → Demo → Practice → Case Study → Review

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan tidak hanya mempersiapkan karyawan agar mampu menggunakan Coretax, tetapi juga membantu mereka memahami bagaimana e-Faktur Pajak Keluaran terhubung dengan proses bisnis perusahaan.


Kesimpulan

Perbandingan e-Faktur Pajak Keluaran sebelum dan sesudah Coretax menunjukkan bahwa perubahan terbesar bukan hanya terletak pada aplikasi.

Perubahan juga terjadi pada:

Workflow

Data

SDM

SOP

Internal Control

Sebelum Coretax, fokus pengguna lebih banyak pada:

“Bagaimana menggunakan e-Faktur?”

Di era Coretax, pertanyaannya berkembang menjadi:

“Bagaimana memastikan proses Pajak Keluaran perusahaan berjalan benar, terintegrasi, dan terkontrol?”

Karena itu, perusahaan perlu melihat implementasi Coretax sebagai kesempatan untuk melakukan process improvement, bukan sekadar pergantian sistem.

Gunakan prinsip:

Understand the Transaction → Validate the Data → Process in Coretax → Review → Reconcile

Dengan SDM yang kompeten, data yang berkualitas, SOP yang jelas, dan kontrol yang memadai, perusahaan akan lebih siap menghadapi perubahan administrasi perpajakan di era Coretax.

Bukan sekadar bisa membuat e-Faktur, tetapi mampu mengelola proses Pajak Keluaran secara end-to-end.

Butuh training perpajakan untuk tim Anda?

NEMA Academy merancang in-house training dan pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi Anda. Konsultasikan kebutuhan tim Anda langsung dengan kami.