Oleh Nurdin Maharyanto, trainer NEMA Academy
Menjelang lengsernya Orde Baru, demonstrasi terjadi di hampir setiap penjuru negeri. Pesertanya bukan hanya mahasiswa, tetapi juga lembaga swadaya masyarakat dan berbagai organisasi kemasyarakatan. Dari pengalaman menyaksikan masa itu, saya justru belajar banyak tentang karakter pemimpin: bagaimana seseorang bisa membuat ribuan orang bergerak ke arah yang sama.
Tulisan ini bukan tentang politik, dan bukan pembenaran atas kerusuhan. Ini tentang kepemimpinan. Yang saya cermati adalah cara seorang pemimpin gerakan mengumpulkan orang, menyamakan tujuan, menjaga kekompakan, dan mengevaluasi langkahnya. Keahlian yang sama dibutuhkan setiap pemimpin di kantor.
Daftar Isi
Siapa yang Menggerakkan Massa?
Pada 1998, kelompok-kelompok yang semula terpisah tiba-tiba bersatu dan menyuarakan satu tuntutan yang sama: Reformasi. Tuntutan itu akhirnya terpenuhi ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998.
Yang menarik bagi saya bukan peristiwa politiknya, melainkan pertanyaan di baliknya. Bagaimana massa sebanyak itu bisa berkumpul dan bergerak? Bagaimana mereka memiliki suara dan visi yang sama? Dan yang lebih luar biasa, bagaimana mereka memiliki jiwa militan untuk berjuang bersama, mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya, sampai tujuan tercapai?
Setelah Reformasi pun, gerakan serupa terus muncul setiap kali ada ketidakpuasan terhadap suatu kebijakan. Polanya sama: ada tuntutan yang jelas, ada kekompakan, dan ada seseorang yang menggerakkan.
Adakah yang Salah dengan Kata Provokator?
Orang yang menggerakkan massa itu kemudian disebut provokator. Sayangnya, kata ini telanjur bermakna negatif: dianggap otak perusuh. Setiap kali demonstrasi berujung ricuh, yang pertama dicari adalah provokatornya.
Saya tidak sedang membela kerusuhan. Tetapi kalau kita melepaskan stigma itu dan melihat apa yang sebenarnya ia lakukan, seorang provokator adalah pemimpin. Ia mampu mengumpulkan orang, memberi pemahaman, menyamakan visi, menggerakkan, menjaga kekompakan, lalu mengevaluasi pergerakan untuk langkah berikutnya.
Itu bukan hal mudah. Untuk memimpin gerakan dibutuhkan sosok yang kuat, militan, dan mampu membawa anggotanya mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
6 Karakter Pemimpin yang Bisa Dipelajari dari Seorang Provokator
Dari pengamatan saya, ada enam kekuatan yang dimiliki pemimpin gerakan. Keenamnya juga merupakan karakter pemimpin yang dibutuhkan di organisasi mana pun.
1. Terpercaya
Peserta demonstrasi akan memilih pemimpin yang sudah mereka kenal sepak terjangnya. Artinya, seorang pemimpin harus punya jam terbang yang cukup sehingga orang percaya pada kemampuannya.
Di kantor, kepercayaan tidak datang dari jabatan. Ia datang dari rekam jejak: janji yang ditepati, keputusan yang terbukti tepat, dan sikap yang konsisten.
2. Visi
Pemimpin demonstrasi sangat paham tujuan yang ingin dicapai. Karena itu ia tidak menyerah sebelum tujuannya tercapai.
Tim tanpa tujuan yang jelas akan sibuk tetapi tidak bergerak ke mana-mana. Pemimpin yang baik bisa menjelaskan dalam satu kalimat ke mana timnya menuju.
3. Komunikasi
Pemimpin gerakan memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa. Ia mampu menyampaikan visi kepada seluruh anggotanya sehingga mereka yakin bahwa di bawah kepemimpinannya, tujuan kelompok akan tercapai.
Kita mengenal Soekarno sebagai orator yang mampu membakar semangat rakyat lewat pidato-pidatonya yang berapi-api. Begitu pula pemimpin demonstrasi: dengan megafon di tangan, ia memberi instruksi sekaligus semangat kepada kelompoknya.
Pemimpin di kantor tidak perlu megafon. Tetapi ia perlu kemampuan yang sama: menjelaskan alasan di balik keputusan, bukan hanya memberi perintah.
4. Komitmen
Pemimpin demonstrasi menunjukkan komitmennya dengan rela berkorban waktu, tenaga, dan pikiran. Bukan sekadar komat-kamit. Ia turun ke lapangan, bahkan berdiri di barisan terdepan dan memasang badannya sebagai bemper bagi anggotanya.
Ia juga fokus sampai tuntutannya tercapai. Ia terus mengevaluasi pergerakan dan merapatkan barisan, sehingga anggota tidak terpecah dan tetap termotivasi sampai tujuan akhir.
Anak buah memperhatikan apa yang dilakukan atasannya, bukan apa yang dikatakannya. Pemimpin yang ikut turun saat tim kesulitan akan diikuti, bukan sekadar dipatuhi.
5. Motivator
Pemimpin gerakan adalah motivator ulung. Ia tidak pernah lelah membakar semangat anggotanya. Untuk itu ia harus punya energi lebih, agar tidak terlihat lelah di depan kelompoknya. Seakan-akan ia punya obat “anti loyo” yang membuat anggotanya kagum dan ikut bersemangat, sampai kelompoknya menjadi militan dalam berjuang.
Semangat tim sering kali adalah cermin semangat pemimpinnya. Kalau pemimpinnya lesu, tim akan ikut lesu.
6. Tegas
Pemimpin demonstrasi memiliki ketegasan dalam memilih dan mengambil keputusan. Baginya, ya dan tidak adalah dua kata yang sangat berbeda. Kalau sudah mengatakan ya, itulah yang ia jalankan. Kalau sudah mengatakan tidak, sulit membelokkan pilihannya. Ketegasan ini bisa saja cenderung keras kepala, tetapi begitu menjatuhkan pilihan, ia berkomitmen menjalankannya.
Baginya, keragu-raguan hanya membuat seorang pemimpin plin-plan dan menyulitkan langkah menuju tujuan. Ketegasan itu pula yang membuatnya berani menanggung risiko. Baik atau buruk hasilnya, ia yang mempertanggungjawabkan.
Kisah Seorang Aktivis di Surabaya
Saya teringat seorang teman yang menjadi aktivis pada masa Reformasi. Saya cukup ngeri sekaligus kagum menyaksikan betapa bersemangatnya ia memimpin pergerakan di Surabaya.
Waktu tidurnya seperti hanya sekadar merebahkan punggung. Mandi pun hampir tidak sempat, apalagi pulang ke rumah. Setiap saat ia memikirkan pergerakan, berkoordinasi dengan kelompoknya, dan bersinergi dengan kelompok lain. Setelah setiap aksi, ia mengumpulkan anggotanya untuk evaluasi dan memastikan tidak ada yang terluka atau hilang. Lalu ia menyusun rencana untuk keesokan harinya.
Ia mengatakan kepada saya bahwa ia tidak akan berhenti sampai tujuannya tercapai. Ia bahkan memaksa berangkat ke Jakarta untuk bergabung dengan rekan-rekannya di sana, sampai mengorbankan kuliahnya. Ketika teman seangkatannya sudah lulus, ia masih berkutat dengan pergerakannya. Baginya, itu adalah jalan hidup yang telah ia pilih.
Saya tidak menyarankan siapa pun mengorbankan kesehatan atau pendidikannya. Tetapi dari kisah ini terlihat jelas bagaimana visi, komitmen, dan evaluasi rutin bekerja bersama dalam diri seorang pemimpin.
Ketika Pemimpin Kehilangan Kendali: Kasus Bank dan Kontraktor Pameran
Keenam karakter di atas paling terasa justru ketika tidak ada. Ada cerita menarik dari sebuah kantor cabang bank yang baru meluncurkan unit usaha dan akan ikut pameran properti.
Dua hari sebelum pameran, bank tersebut menghubungi sebuah kontraktor untuk membuat booth pameran. Anggaran disepakati, uang muka diserahkan, dan karena waktunya mendesak, kontraktor langsung mengerjakannya.
Sehari sebelum pameran, bank menelepon dan membatalkan proyek tersebut. Kontraktor tentu kaget. Ketika ditanya alasannya, pihak bank menjelaskan bahwa karyawan yang memegang unit usaha baru itu ternyata sudah menunjuk kontraktor lain tanpa sepengetahuan pimpinan. Pimpinan merasa dilangkahi, tetapi tidak kuasa menolak kontraktor yang dibawa karyawannya. Akhirnya, ia justru membatalkan kontraktor yang resmi ditunjuk dan menerbitkan berita acara pembatalan.
Dari sisi kepemimpinan, terlihat jelas di sini siapa yang dipimpin dan siapa yang memimpin, serta siapa yang seharusnya memimpin dan siapa yang seharusnya dipimpin. Pimpinan cabang kehilangan ketegasan, dan bersamaan dengan itu kehilangan kepercayaan, baik dari mitra maupun dari timnya sendiri.
Membawa 6 Karakter Pemimpin ke Kantor
Enam karakter pemimpin ini bisa diuji dengan pertanyaan sederhana:
| Karakter | Pertanyaan untuk diri sendiri |
|---|---|
| Terpercaya | Apakah tim saya yakin saya menepati apa yang saya katakan? |
| Visi | Bisakah setiap anggota tim menjelaskan tujuan kami dengan kalimatnya sendiri? |
| Komunikasi | Apakah saya menjelaskan alasan di balik keputusan, atau hanya memberi perintah? |
| Komitmen | Kapan terakhir kali saya ikut turun saat tim sedang kesulitan? |
| Motivator | Apakah semangat saya menular, atau justru kelelahan saya yang menular? |
| Tegas | Apakah keputusan saya bertahan, atau mudah berubah karena tekanan dari bawah? |
Kalau Anda baru memulai sebagai pemimpin, panduan leadership untuk pemula bisa menjadi titik awal. Untuk langkah pengembangan yang lebih terstruktur, baca juga cara mengembangkan leadership skill.
Kesimpulan
Karakter pemimpin tidak hanya bisa dipelajari dari buku manajemen atau tokoh bisnis. Bahkan dari sosok yang sering dicap negatif seperti provokator, ada enam pelajaran yang relevan: terpercaya, punya visi, pandai berkomunikasi, berkomitmen, mampu memotivasi, dan tegas.
Tanpa keenamnya, posisi pemimpin bisa diambil alih oleh siapa saja yang lebih berani, seperti dalam kasus bank tadi. Dengan keenamnya, seorang pemimpin bisa membuat timnya bergerak ke arah yang sama, bahkan ketika jalannya tidak mudah.
NEMA Academy menyelenggarakan training kepemimpinan in-house untuk supervisor hingga manajer, dengan studi kasus dari dunia kerja peserta. Diskusikan kebutuhan tim Anda lewat WhatsApp.

